Tampilkan postingan dengan label yakult. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yakult. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Maret 2015

RED WATER SYSTEM

Red Water System (RWS) adalah salah satu cara baru dalam kegiatan budidaya ikan lele dengan memanfaatkan bakteri Lactobacillus dan Saccharomyces dalam proses pembesaran benih ikan lele tanpa ganti air kolam hingga panen dengan cara fermentasi yakult, ragi tape dan molasses (tetes tebu).

Seperti diketahui bersama bahwa tumpukan kotoran ikan dan sisa pakan yang mengendap di dasar kolam dapat mengganggu kesehatan ikan. Nah, Red Water System ini memanfaatkan tumpukan kotoran ikan dan sisa pakan yang mengendap di dasar kolam menjadi kebutuhan makanan bagi bakteri Lactobacillus dan Saccharomyces, kotoran-kotoran tersebut akan diserap sebagai pakan utamanya. Saccharomyces memang bukanlah bakteri, tetapi sejenis ragi/yeast yang tujuannya memberikan Lactobacillus dalam memberikan asam organik di dalam kolam yang akan merangsang tumbuhnya bakteri ungu/purple non sulfur.

Kolam Red Water System hanya ideal untuk penebaran benih ikan lele dalam jumlah 300 ekor/m3 (tanpa aerasi) dan 500 ekor/m3 (dengan bantuan aerasi) tanpa perlu ganti air hingga panen. Sistem ini sangat cocok bagi anda yang terlalu sibuk dengan kegiatan lain ataupun yang malas berurusan dengan sedot-menyedot kotoran ikan lele di dasar kolam.

Sebagai catatan, agar tidak terjadi booming kotoran ikan yang tidak terserap semua oleh kedua bakteri tersebut, maka penting untuk menempatkan arang di pinggir-pinggir dinding kolam sebanyak 1 kg/m3 (bukan di bagian dasar kolam) yang berfungsi untuk menyerap sisa kotoran ikan yang tak dimakan oleh bakteri Lactobacillus di dalam air kolam lele.

Proses Aplikasi Red Water System

1. Bahan-Bahan:
a. Air bersih = 18 liter.
b. Yakult = 4 botol.
c. Ragi tape = 2 butir.
d. Molasses (tetes tebu / gula jawa / gula merah) = 1 liter.
e. Air kelapa murni dari 1 butir buah kelapa yang sudah tua.
f. Jerigen 20 liter = 1 unit.

2. Cara Mengolah Bahan:
a. Masukkan air bersih 18 liter ke dalam jerigen bersih.
b.    Tuangkan 4 botol yakult, 1 liter molasses, 2 butir ragi tape (yang sudah di tumbuk halus) dan air kelapa murni ke dalam jerigen yang telah berisi air bersih.
c. Kocok jerigen selama 1-2 menit agar semua bahan-bahan terlarut merata.
d.    Simpan jerigen beserta bahan-bahan tersebut selama 6-7 hari agar terjadi proses fermentasi dengan sempurna yang akan ditandai dengan cairan di dalam jerigen berubah warna menjadi cokelat dan berbau alkohol.

3. Cara Aplikasi Bahan Pada Kolam Ikan Lele:
a. Kolam yang telah berisi air bersih bebas kandungan logam berat beserta benih ikan lele diberi tetesan fermentasi yakult, molasses, ragi dan air kelapa yang sudah jadi di jerigen setiap hari secara merata ke seluruh permukaan kolam. Setiap 1 m3  kolam, ditetesi 100 ml bahan fermentasi tersebut atau setara dengan ½ gelas.
b.    Sisa bahan fermentasi tetap disimpan di dalam jerigen untuk digunakan lagi pada hari-hari berikutnya. Lakukan penetesan bahan fermentasi itu setiap hari dengan jarak waktu 24 jam.
c. Letakkan arang di pinggir-pinggir dinding kolam sebanyak 1 kg/m3 (bukan di bagian dasar kolam) yang berfungsi untuk menyerap sisa kotoran ikan yang tak dimakan oleh bakteri Lactobacillus di dalam air kolam lele.

Akibat penetesan bahan fermentasi di atas setiap hari, maka dari hari ke hari air kolam akan berubah warna perlahan-lahan dari warna hijau, cokelat hingga menjadi warna merah muda.
Jangan panik dengan air menjadi berwarna merah, karena sesungguhnya air kolam seperti itu dalam keadaan sangat sehat bagi ikan dan sangat minim kotoran ikan karena telah di makan oleh bakteri Lactobacillus dan juga diserap oleh arang yang di letakkan di pinggir-pinggir dinding kolam.
Disarankan untuk memasang 2 titik selang aerasi udara yang bertujuan untuk mengaduk bakteri Lactobacillus yang mengendap di dasar kolam agar dapat terus berada merata di semua area kolam.

4. Pemberian Pakan Ikan Lele:
    Pakan (pelet) yang akan diberikan pada ikan lele disarankan untuk direndam dulu dengan air hangat lalu didinginkan dengan cara diangin-anginkan sebelum ditebar ke kolam. Pelet yang kurang lembut sering menjadi penyebab perut ikan kembung dan luka pada usus yang akhirnya menimbulkan kematian pada benih lele.
Kasus perut kembung pada benih lele juga sering terjadi saat peralihan pelet misalnya dari pelet FF 999 menuju ke pelet 781 (-1) dan seterusnya.
Pemberian pakan pada sistem ini tidak diperlukan lagi probiotik, karena hasil fermentasi bahan-bahan Red Water System ini juga adalah probiotik.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:
  • Atasi sumber air sumur / sumur bor dari kandungan logam berat seperti, zat besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu) dan alumunium (Al) dengan filter karbon aktif, atau dengan penaburan kapur dolomit sebanyak 300 gram/m3 pada seluruh permukaan air kolam (jumlah dolomit disesuaikan dengan luas kolam dan tinggi air yang direncanakan).
  • Penetesan bahan-bahan hasil fermentasi yakult, molases, ragi, dan air kelapa sesuai dosis yang dianjurkan hanya dilakukan hingga air kolam berubah berwarna menjadi merah. Jika air kolam sudah berwarna merah, maka penetesan hasil fermentasi tersebut harus dihentikan.
  • Proses perubahan air kolam menjadi merah saat diberikan tetesan bahan-bahan hasil fermentasi itu adalah diawali dengan perubahan air kolam menjadi warna hijau bila matahari terang terus menyinari air kolam, selanjutnya dari air hijau akan berubah menjadi warna cokelat dan akhirnya air kolam berubah menjadi warna merah. Ketika sudah berwarna merah, penetesan bahan-bahan fermentasi dihentikan.
  • Pada bagian lain, air kolam juga bisa berubah menjadi warna hitam, jika proses penetesan bahan fermentasi pada air kolam tidak memperoleh sinar matahari yang cukup (karena sering hujan/mendung). Maka proses RWS dapat disebut rusak, sebab itu sebelum air kolam menjadi warna hitam, maka segeralah air kolam dibuang 10% dan diganti dengan air yang baru 10% dan dilakukan dalam beberapa hari sambil terus diteteskan bahan-bahan hasil fermentasi tersebut sampai air berubah menjadi merah.
  • Jika suatu hari mencium air kolam merah mulai berbau, maka kurangi pemberian pakan atau dipuasakan sehari yang disertai dengan memberikan kapur dolomit pada air kolam.
Sumber: Ibnu Sahidhir.

Selasa, 10 Februari 2015

PROBIOTIK (“JAMU IKAN”) BUATAN SENDIRI

Probiotik merupakan bakteri hidup dan menguntungkan yang sengaja diberikan pada ikan atau air kolam. Jenis-jenis bakteri menguntungkan tersebut berasal dan hidup dalam usus mamalia. Di pasaran saat ini banyak beredar beragam jenis produk probiotik dengan beragam merek yang ditawarkan. Probiotik untuk budidaya ikan yang beredar di pasaran umumnya mengandung beberapa jenis bakteri. Di antaranya adalah bakteri Escherichia colli berperan dalam menguraikan sisa-sisa mahluk hidup, termasuk kotoran dan keringat (lendir). Bakteri Nitrosococcus dan Nitrosomonas berperan dalam menyuburkan atau pupuk, yaitu mengubah nitrit menjadi nitrat (nitrifikasi). Bakteri Methanobacterium berperan dalam menghancurkan sampah dan kotoran ikan (proses pembusukan). Bakteri Rhizobium berperan dalam mengikat nitrogen (kesuburan air kolam). Bakteri Lactobacillus bulgaricus berperan dalam menghasilkan asam laktat atau menghancurkan laktosa.

Ada beberapa keuntungan pencampuran pakan dengan probiotik, yaitu:
  • Penggunaan pakan lebih hemat.
  • Memperbesar ukuran pakan, karena setelah pakan direndam dengan probiotik yang dicampur dengan air dengan perbandingan 1:1, pakan bisa menjadi dua kali lipat jumlahnya. Hal ini karena pakan akan memuai (baca: melar)
  • Pakan bisa langsung dicerna oleh usus ikan.
  • Pellet menjadi lebih lembut dan lebih mudah untuk dicerna.
  • Tekstur pellet lebih Lembut.
  • Karena pellet sebelum direndam biasanya cenderung teksturnya lebih keras. Setelah perendaman teksturnya akan lebih lembut sehingga menjadi mudah untuk dicerna dan diserap nutrisinya oleh ikan.
  • Lebih menghemat energi bagi ikan.
  • Dengan tekstur pakan sesudah direndam yang lembut ketika pakan ada didalam usus bisa langsung dicerna sehingga ikan tidak membutuhkan energi lebih untuk menghancurkan pellet ini. Pellet yang lembut ini bisa langsung diserap oleh saluran pencernaan ikan
  • Menambah nutrisi pakan
  • Dengan penambahan probiotik, saluran pencernaan ikan akan lebih baik karena probiotik ini bisa langsung diserap sekaligus di dalam saluran pencernaan ikan ketika pakan dimakan oleh ikan. Di dalam probiotik ini banyak mengandung bakteri yang menguntungkan bagi usus ikan. Begitu juga daya tahan tubuh ikan bisa meningkat.
  • Merangsang nafsu makan ikan
  • Pertumbuhan ikan menjadi lebih cepat akibat nafsu makannya meningkat dan penyerapan pakan bisa lebih maksimal.
  • Tingkat kematian ikan juga kecil
  • Daging ikan yang dipanen menjadi lebih padat
  • Bagus untuk pemeliharaan air kolam sehingga air kolam tidak gampang bau karena lumpur diproses secara alami oleh bakteri menguntungkan yang terdapat dalam probiotik tersebut.
Bila diinginkan, para pembudidaya ikan sebenarnya bisa membuat probiotik sendiri. Ada banyak formula probiotik yang beredar, dan semua probiotik ini sangat bermanfaat. Nah berikut adalah beberapa di antaranya yang bisa anda coba di rumah.

Formula 1

Bahan bakunya berupa berbagai jenis bakteri tersebut di atas yang bisa diperoleh dari produk probiotik yang beredar di pasaran. Kalau mau yang lebih hemat bakterinya bisa juga diperoleh dari rumen sapi, yakni kotoran yang masih terbungkus dalam kantong besar usus sapi.
Selain rumen sapi, bahan lain yang perlu disiapkan adalah dedak halus, gula merah dan
air bersih. Sedangkan peralatan yang perlu disiapkan adalah ember besar dan tutupnya, timbangan, corong, saringan, botol atau jirigen.

Cara membuatnya:
  1. Siapkan ember besar, masukan 5 kg rumen sapi, 2 kg dedak halus, 9 liter air bersih dan 1 kg gula merah yang sudah diencerkan dalam 1 liter air.
  2. Aduk semua bahan tersebut agar tercampur merata.  Setelah itu tutup embernya dan biarkan selama seminggu.
  3. Setiap hari ember dibuka, diaduk dan ditutup kembali.
  4. Setelah seminggu probiotik siap dimanfaatkan. Caranya, ambil cairan yang ada di ember dengan cara menyaringnya menggunakan kain kasa atau saringan santan. Tampung cairannya dan masukkan ke dalam jerigen atau botol plastik siap untuk digunakan atau ditebarkan ke air kolam.
Dosis probiotik cukup 100 ml untuk 10 m3 air kolam. Sebelum disebar di kolam, probiotik dicampur terlebih dulu dengan 2-3 liter air dalam wadah ember. Setelah probiotik diaduk langsung disebar ke kolam secara merata. Probiotik bisa ditebarkan 4-7 hari sekali ke dalam kolam agar kualitas airnya tetap terjaga dan ikan terhindar dari serangan penyakit.

Formula 2

Bahan Dasar:
1. Temulawak
2. Kencur
3. Kunyit
4. Asem
5. Tetes/molases
6. Microba (yakult)
Bahan dasar tersebut digiling dan dicampur.

Cara membuat:
  • Campurkan bahan di atas dalam 1(satu) wadah, aduk hingga merata.
  • Tambahkan tetes/molases ke dalam campuran sambil diaduk, tambahkan air 1(satu) liter dan aduk kembali.
  • Campurkan yakult ke dalam larutan tadi dan aduk kembali.
  • Masukkan campuran tersebut ke dalam jerigen dan tutup rapat.
  • Diamkan selama 10 (sepuluh) hari agar mikroba di dalam campuran berkembang biak, tetapi buka tutup 1-2 kali sehari agar tidak meledak atau mengeluarkan uap di dalam jerigen.
  • Setelah hari ke-11 jamu (probiotik) tersebut langsung dapat digunakan sebagai campuran pakan ikan.

Cara pemakaian:
  • Campurkan jamu 100 ml dengan air 500 ml, aduk hingga merata.
  • Ambil 1 (satu) kg pakan ikan dan campurkan dengan larutan tadi sambil diaduk hingga rata.
  • Diamkan dan tutup pakan tersebut hingga semalam, sehingga campuran jamu meresap dan pakan terfermentasi.
  • Pakan siap diberikan ke Ikan.

Jika dihitung secara sederhana harganya hanya Rp 2.500,-/liter, bandingkan dengan yang ada di toko (Rp 20.000.- – 50.000,-/liter).

Formula 3

Bahan:
1.    Jahe merah 5 kg
2.    Kunyit putih 2 kg
3.    Temu lawak 5 kg semuanya dipanaskan.
4.    Sirih merah 20 daun
5.    Lumut sawah 1 kg
6.    Nanas 1 kg
7.    Susu murni 2 liter
8.    Air kelapa 10 liter
9.    Gula merah 5 kg dan tetes.

Cara Membuat:
•    Jahe, kunyit dan temu lawak di parut lalu di panaskan
•    Itu semua dicampur dalam drum plastik secara rapat dan buatlah aerator udara.
•    Setelah 1 bulan bisa digunakan.

Cara Penggunaan:
Aplikasi bisa melalui pakan dan siram ke kolam sebelum tebar bibit.
Dosis tidak ada anjuran resmi, karena ini bahan organik.

Catatan: Jangan lupa drum yang digunakan harus plastik bukan logam. Juga harus ada angin-anginnya agar tidak meledak!

Sumber: Agus Rokhdianto, Mustafa Kamal dan lainnya