Tampilkan postingan dengan label nutrisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nutrisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Juli 2015

NILA, BELUT DAN MANFAATNYA



1. Nila/Tilapia mengandung pro­tein, selenium, vitamin B12, niacin, fosfor dan kalium. Selenium merupakan mineral penting yang sangat dibutuhkan oleh tubuh sebagai anti­oksidan untuk meredam aktivitas radikal bebas. Selenium tidak diproduksi oleh tubuh, tetapi diperoleh dari konsumsi makanan sehari-hari antara lain dari tumbuh-tumbuhan dan makanan laut. Orang dewasa dianjurkan untuk mengkonsumsi, 55 mikrogram (mcg) se­lenium setiap hari. Namun perempuan dewasa yang sedang hamil dianjurkan meningkatkan asupan selenium menjadi 60 mcg per hari. Kebutuhan tersebut akan meningkat saat seorang ibu harus menyusui, menjadi sebesar 70 mcg per hari.

Vitamin B12 atau dikenal juga dengan kobalamin adalah vitamin yang bertugas memban­tu darah membawa oksigen ke seluruh tubuh, pembentuk sel darah merah, serta mencegah kerusakan sistem saraf dengan membantu pembentukan mielin (lapisan pembungkus serabut saraf). Karena peranannya dalam pembentukan sel, defisiensi kobalamin bisa mengganggu pembentukan sel darah merah, sehingga menimbulkan berkurangnya jumlah sel darah merah. Akibatnya, terjadi anemia. Gejalanya meliputi kelelahan, kehilangan nafsu makan, diare, dan murung. Meski dibutuhkan dalam jumlah kecil (pada orang dewasa dibutuhkan 2 mikrogram per hari), namun vitamin ini tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh. Karena itu menu harian Anda sebaiknya bisa memenuhi kebutuhan vitamin dan zat gizi penting lainnya. Saat ini me­mang banyak tersedia suplemen vitamin yang mengandung B12, namun karena tubuh hanya membutuhkannya dalam jumlah sangat sedikit, jauh lebih baik mendapatkan vitamin ini dari makanan segar. Bagi Anda yang terbiasa mengonsumsi vitamin C dosis tinggi perlu waspada. Pasalnya vitamin C dalam dosis tinggi bisa mengubah sejumlah B12 menjadi antivitamin B12. Jika dibiarkan berlarut-larut akan menyebabkan defisiensi vitamin B12. Pada mereka yang “alergi” makanan hewani, yang notabene merupakan sumber kobalamin (nama lain vitamin B12) dan pola makan vegetarian (hanya makan dari sumber nabati) juga dapat menjadi faktor penyebab kekurangan vitamin ini.

Niasin berperan merangsang pembentukan prostaglandin I2, suatu hormon yang membantu mencegah pengumpulan keping darah. Oleh karena itu niasin dapat memperkecil proses aterosklerosis yang pada akhirnya dapat memperkecil resiko serangan jantung. Niasin juga terbukti mencegah berulangnya proses pengapuran pasca operasi bypass jantung koroner.

Peranan mineral fosfor menempati urutan kedua setelah kalsium dalam total kandungan tubuh. Fosfor yang berbentuk kristal kalsium fosfat yang terdapat dalam tubuh sebanyak 80% berada dalam tulang dan gigi. Fungsi utamanya sebagai pemberi energi dan kekua­tan untuk metabolisme lemak dan pati, seba­gai penunjang kesehatan gigi dan gusi, untuk sintesa DNA serta penyerapan dam pemakaian kalsium.

Kalium (K) adalah sebuah mineral yang mempunyai banyak fungsi bagi tubuh kita. Kalium dimanfaatkan oleh sistem syaraf otonom (SSO) untuk mengontrol detak jan­tung, fungsi otak, dan proses fisiologi penting lainnya. Kalium juga terbukti membantu menurunkan tekanan darah, membantu men­gatur keseimbangan cairan tubuh dan juga dibutuhkan dalam proses sintesa protein dari makanan. Kadar kalium yang stabil juga menghindarkan tubuh dari munculnya penya­kit diabetes tipe 2. Orang-orang yang paling membutuhkan suplemen kalium adalah mer­eka yang kelebihan berat badan atau obesitas dan para olahragawan. Mengkonsumsi terlalu banyak kalium menimbulkan efek samping seperti masalah perut, meningkatnya gas dalam lambung, nyeri abdomen, diare, mual dan bersendawa. Jumlah kalium yang terlalu ban­yak dapat mengakibatkan serangan jantung. Dengan kandungan dan kebutuhan yang tercantum di atas, nampaknya tilapia dapat me­menuhi kebutuhan harian gizi anda.



Kandungan Nutrisi Tilapia
Kalori
128 kcal
Protein
26 gram
Karbohidrat
0 gram
Lemak total
3 gram
Lemak Jenuh
1 gram
Lemak Tak Jenuh
2 gram
Transfat
0 gram
Kolesterol
57 mg
Serat
0 gram
Selenium
54,4 mcg (78% AKG*)
Vitamin B12
1,86 mcg (31% AKG*)
Niacin
4,74 mg (24% AKG*)
Fosfor
204 mg (20% AKG*)
Kalium
380 mg (11% AKG*)
Sumber: www.aquaticcommunity.com



Keterangan: * persen AKG didasarkan pada 2000 kalori diet.AKG mungkin lebih tinggi atau lebih rendah tergantung dari kebutuhan kalori setiap orang

Data di atas memperlihatkan pula bahwa tilapia juga merupakan sumber utama selenium, vitamin B12, niasin, fosfor dan kalium.



2. Belut (Monopterus albus) merupakan ikan yang tidak mempunyai sirip atau anggota badan lain untuk bergerak. Bentuknya yang menyerupai ular dan sangat licin, kadang-kadang membuat sebagian orang enggan untuk mengkonsumsinya. Namun ternyata, daging belut ini dapat diolah menjadi berbagai macam jenis makanan dan mempunyai kandungan gizi yang sangat bermanfaat terhadap kesehatan.

Belut mempunyai Berat Dapat Dimakan (BDD) sebesar 100% artinya semua bagian dari belut tersebut seluruhnya dapat dimakan. Kandungan gizi dari 100 gr BDD antara adalah energi 82 kkal, protein 6,7 gr, lemak 1,0 gr dan karbohidrat 10,9 gr.

Berdasarkan komposisi gizinya belut mempunyai nilai energi yang cukup tinggi, sehingga belut sangat baik untuk digunakan sebagai sumber energi. Kandungan protein belut juga cukup tinggi dan ditambah dengan nilai cerna protein yang cukup baik sehingga sangat cocok untuk dijadikan sumber protein bagi semua kelompok usia.

Protein belut juga kaya akan beberapa asam amino esensial yang memiliki kualitas cukup baik, yaitu Asam linotenat, EPA, DHA, leusin, Isoleusin, lisin, asam aspartat, dan asam glutamat. Leusin dan isoleusin merupakan asam amino esensial yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan anak-anak dan menjaga keseimbangan nitrogen pada orang dewasa. Disamping itu, leusin juga berguna untuk perombakan dan pembentukan protein otot.

Kandungan asam glutamat yang tinggi pada belut menyebabkan daging belut terasa enak dan gurih. Asam glutamat berfungsi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sedangkan asam aspartat bermanfaat untuk membantu kerja neurotransmitter.

Belut juga mengandung arginin (asam amino non esensial) yang dapat bermanfaat untuk mempengaruhi produksi Human Growth Hormone (HGH). Hormon HGH berperan dalam membantu meningkatkan kesehatan otot dan mengurangi penumpukan lemak di tubuh. Hasil uji laboratorium juga menunjukkan bahwa arginin berfungsi menghambat pertumbuhan sel-sel kanker payudara.

Belut termasuk jenis ikan yang tergolong tinggi kandungan mineralnya seperti kalsium, phospor dan zat besi. Pada 100 gram belut mengandung 840 mg kalsium, atau lebih tinggi bila  dibandingkan dengan 100 gram keju yang hanya mengandung 770 mg kalsium. Di samping kalsium, belut juga mengandung hormon kalsitonin. Kalsium dan kalsitonin berfungsi untuk menjaga kesehatan tulang.

Pada 100 gram belut mengandung 4,9 mg zat besi, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 100 telur ayam yang hanya mengandung 2,7 mg. Kebutuhan tubuh akan zat besi secara ideal adalah sebesar 25 mg/hari, sehingga dengan mengkonsumsi 250 gram belut setiap hari maka telah memenuhi setengah kebutuhan zat besi. Zat besi sangat diperlukan tubuh untuk mencegah anemia gizi, yang ditandai oleh tubuh yang mudah lemah, letih, dan lesu. Zat besi berguna meningkatkan kekebalan tubuh dan membentuk hemoglobin darah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh sehingga memperlancar oksidasi karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi untuk aktivitas tubuh. Oleh karena itu, saat ini belut sering digunakan sebagai obat/jamu untuk meningkatkan vitalitas tubuh.

Pada 100 gram belut segar terkandung 533 mg fosfor, sedangkan 100 gram belut goreng mengandung 872 mg. Kandungan fosfor pada belut segar hampir sama dengan kuning telur ayam hanya mengandung fosfor sebesar 586 mg dan jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan dendeng daging sapi yang hanya mengandung 370 mg. Fosfor berfungsi untuk membentuk massa tulang. Fungsi utama fosfor adalah sebagai pemberi energi dan kekuatan pada metabolisme lemak dan karbohidrat, sebagai penunjang kesehatan gigi dan gusi, sintesis DNA serta penyerapan dan pemakaian kalsium. Oleh karena itu konsumsi fosfor harus diimbangi dengan kalsium dan protein sehingga dapat membuat tulang menjadi kokoh dan kuat, sehingga terbebas dari osteoporosis.

Siapa sangka belut yang bentuknya seperti ular, licin dan tidak menarik ternyata menyimpan banyak manfaat karena kandungan berbagai macam nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan. Jadi jangan ragu lagi untuk mengkonsumsi belut, apalagi saat ini sudah tersedia berbagai macam olahan belut yang lezat dan gizinya bermanfaat.


Sumber: Rizki Fadli, Syamsi Haryono (www.p2hp.kkp.go.id)

Sabtu, 18 Oktober 2014

PEMBUATAN PAKAN IKAN

Upaya perbaikan komposisi nutrisi dan perbaikan efisiensi penggunaan pakan perlu dilakukan guna meningkatkan produksi hasil budidaya dan mengurangi biaya pengadaan pakan, serta meminimalkan produksi limbah pada media budidaya. Permasalahan yang dihadapi para pembudidaya adalah harga pakan terus meningkat. Peningkatan harga ini dipicu oleh rendahnya suplai bahan baku pakan terutama tepung ikan dan minyak ikan yang  diimpor dari luar. Salah satu upaya pemecahannya adalah mencari pakan altdernatif yang lebih murah untuk menekan biaya yakni pembuatan pakan secara mandiri dengan bahan baku lokal. Lebih dari itu adalah bagaimana cara membuat pakan murah dengan teknologi sederhana serta menjaga mutunya.
Sistem produksi pellet murah skala kecil dapat menggunkan mesin  pelet sederhana atau dapat juga menggunakan mesin giling daging. Produksi pellet murah dengan mesin sederhana yang diterapkan di tingkat masyarakat pembudidaya meliputi beberapa proses tahapan, yaitu 1) pemilihan bahan baku yang tersedia; 2) penghalusan bahan; 3) penyiapan bahan adonan; 4) pencampuran; 5) pencetakan; 6) pengeringan; 7) pengemasan; dan 8) penyimpanan.

Pemilihan Bahan Baku 
Bahan baku pakan berasal dari berbagai sumber, hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah kandungan nutrien esensial, kecernaan, ada tidaknya anti nutrisi dan zat toksik, ketersediaan secara komersial, dan harga. Bahan hewani dan nabati merupakan sumber bahan baku yang umum digunakan. Namun demikian, limbah dari suatu proses industri seperti industri penangkapan ikan dan pengalengan ikan dapat digunakan sebagai bahan pakan.
Tabel 1. Sumber-Sumber Protein, Lemak dan Karbohidrat untuk Pembuatan Pakan Ikan
Protein
Lemak
Karbohidrat
Tepung darah
Minyak jagung
Tepung terigu
Tepung ikan
Minyak hati ikan kord
Singkong
Tepung kopra
Minyak kelapa
Tepung jagung
Tepung tulang & daging
Minyak biji kapuk
Pati jagung
Tepung kepala udang
Minyak hati ikan Pollack
Dedak/katul
Tepung cumi
Minyak hati tuna
Pati sagu
Ikan rucah
Minyak hati cumi
Rumput laut
Yeast
Minyak kedele

Pemilihan bahan baku pakan sangat ditentukan oleh jumlah nutrien esensial yang dikandungnya. Bahan baku pakan yang kaya protein dan memiliki profil asam amino yang baik biasanya lebih mahal sehingga biaya menjadi kendala dalam penggunaannya. Ketersediaan nutrien secara biologis (bioavailability) dari suatu bahan baku bervariasi dan ini akan mempengaruhi jumlah penggunaaan dalam suatu ransum.


Tabel. 2.  Koefisien Daya Cerna Protein (APDC) Beberapa Bahan Baku untuk Hewan Budidaya

Kultivan
Bahan baku
APDC (%)
Udang windu
Tepung ikan
Tepung kedele (tanpa lemak)
Tepung cumi
Tepung udang
Tepung kepala udang
Tepung tulang & daging
Yeast Candida sp.
Tepung kopra
61
93
96
95
89
74
93
75
Ikan bandeng

Ikan mas

Sea bream
Lele
Tepung ikan
Tepung kedele (tanpa lemak)
Tepung ikan (white FM, ekstrak secara mekanik)
Tepung kedele (ekstrak pelarut)
Tepung ikan (white FM, ekstrak secara mekanik)
Tepung kedele (ekstrak pelarut)
45-81*
45-94*
95
81-96
61-87
72-84
Pada umumnya ikan membutuhkan protein lebih banyak daripada hewan ternak di darat (unggas dan mamalia). Selain itu, jenis dan umur ikan juga berpengaruh pada kebutuhan protein. Ikan karnivora membutuhkan protein lebih banyak daripada ikan herbivora, sedangkan ikan omnivora berada di antara keduanya. Pada umumnya ikan membutuhkan protein sekitar 20-60 %, dan optimum 30-36 %. Dalam penyusunan suatu ransum pakan, beberapa sumber protein yang digunakan dicampur guna memenuhi kebutuhan minimal asam amino tersebut di atas. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kecernaan bahan baku dan ketersediaan asam amino yang dikandungnya. Tepung ikan merupakan salah satu bahan baku pakan yang baik, oleh karena komposisi asam amino hampir sesuai dengan udang. Pada umumnya pakan udang komersial memiliki kandungan protein 35-50 %. Jika kadar protein terlalu rendah, laju pertumbuhan akan menurun. Selain kandungan protein pakan ikan juga harus memenuhi kandungan gizi lain seperti lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dalam porsi yang sesuai dengan kebutuhan.

Penghalusan Bahan

Gbr. 1.  Mesin Giling/Penepung Bahan
Untuk meramu formula pakan, bahan-bahan yang akan dijadikan adonan harus direduksi ukuran partikelnya hingga sehalus mungkin, ukuran partikel yang kasar dapat menurunkan kualitas pakan karena tingkat digestibility-nya menjadi rendah dan pellet mudah remuk/hancur. Biji-bijian harus dikeringkan terlebih dahulu hingga kadar air tidak lebih dari 10 %. Khusus untuk kacang kedelai harus disangrai atau dipanaskan menggunakan oven untuk menghilangkan zat anti tumbuh yang terkandung di dalamnya. Zat ini dikenal dengan sarmine protease inhibitor. Mesin giling tepung (dish mill) digunakan untuk menghancurkan dan menghaluskan bahan dengan mesh 0,5 mm, hasil gilingan bahan diayak dengan saringn mesh 100, sudah cukup halus untuk campuran pellet.

Penyiapan dan Pencampuran Bahan Adonan

Gbr. 2.  Mesin Pengaduk Bahan  (Mixer) Skala Kecil
Semua komponen bahan pakan harus mampu dicampur menjadi adonan yang homogen sehingga siap dicetak menjadi pellet. Penentuan proporsi masing-masing bahan didasarkan atas kandungan protein, berat jenis dan harga masing-masing bahan. Setelah semua komponen bahan pakan siap sesuai kualifikasi, kemudian masing-masing ditimbang sesuai porsi. Sebelumnya jumlah adonan yang dibuat untuk campuran harus disesuaikan dengan kapasitas mixer yang akan dipakai. Bahan yang sudah tertimbang dimasukkan ke dalam mixer dan dilakukan pencampuran sekitar 10 menit untuk menjamin homogenitas adonan.

Pencetakan
Dalam proses pencetakan ada beberapa opsi kualitas dan tipe pellet yang diharapkan yaitu:
a.    Berat jenis besar, kompak, namun kecepatan produksi lebih lambat;
b.   Kecepatan produksi tinggi namun pellet lebih ringan dan kurang kompak;
c.    Pellet ringan tapi kompak (pellet apung).

Gb. 3.  Pencetakan Pellet dengan Mesin Giling Daging
Masuknya bahan adonan dengan kadar air 30% ke dalam mesin pencetak digilas dan ditekan dengan scruw menuju lubang cetakan dengan tekanan yang stabil memaksa bahan adonan terakumulasi dalam lubang cetak dan akhirnya keluar melewati lubang cetak. Gesekan mesin cetak dengan adonan menimbulkan efek panas. Energi panas diserap oleh bahan dan terjadi peningkatan suhu pada bahan adonan sehingga pakan dapat lebih kompak, padat dan tidak mudah hancur dalam air. Prinsip dalam proses pencetakan ini adalah daya tekan roller harus  besar dan konstan. Jika tidak maka pellet tidak terbentuk dan terjadi kemacetan.

Pengeringan 
Pellet yang sudah selesai dicetak  harus segera dikeringkan. Masyarakat pada umunya menjemurnya di bawah terik matahari. Pengeringan menggunakan energi alam seperti ini dirasa cukup efisien, meskipun hasilnya kurang bagus karena terjadi kerusakan dan penurunan kadar protein. Pengeringan pakan menggunakan mesin pengering yang lengkap dengan pengatur suhu hasilnya lebih baik. Pengaturan suhu untuk tujuan pengeringan pakan tidak boleh lebih  70 oC . Kadar air pellet yang disarankan  berkisar antara  8-10 %.

Gbr. 4.  Pengeringan dengan Sinar Matahari
Pengemasan 
Pada saat ini proses pengemasan sudah menjadi hal yang mutlak dalam usaha pembuatan pakan ikan karena dengan pengemasan yang baik, proses penurunan mutu dapat ditekan. Wadah untuk mengemas pakan sangat bervariasi, mulai dari karung plastik, kertas semen dan plastik tebal untuk kapasitas besar dan aluninium untuk kapasitas kecil.

Gbr. 5.  Pengemasan Pellet dengan Karung Berlapis Plastik
Penyimpanan
Gbr. 6.  Penempatan/penyimpanan Pakan
Terdapat tiga masalah dalam proses penyimpanan, yakni serangga, organisma mikroskopis dan perubahan iklim yang semuanya akan menyebabkan perubahan kualitas, kerusakan fisik, bau tengik, dan berjamur, kehilangan bobot, resiko kesehatan ikan dan ekonomis. Kontaminasi mikro organisme seperti bakteri dan jamur tidak dapat hidup pada kelembaban di bawah 20%.  Efek kerusakan pada pakan akibat jamur antara lain: 1) Produksi racun mycotoxin, 2) Timbulnya panas, 3) Naiknya kelembaban, dan 4) Munculnya jamur. Perubahan deteriotif pada bahan baku dan pakan hampir selalu terjadi dan ini berhubungan dengan kandungan lipid/lemak pada pakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses deteriotif adalah faktor lingkungan (temperatur, kelembaban, kebersihan lingkungan), kehadiran serangga dan mikroorganisma. Ketengikan merupakan gabungan dari 3 proses, yaitu: oksidasi, hidrolisis dan pembentukan koton. Banyak faktor yang mempengaruhi oksidasi lipid yaitu enzim, hematin, peroksida, cahaya, temperatur dan katalis dari logam berat.
Pakan yang sudah dikemas dalam karung harus disimpan pada tempat/gudang dengan persyaratan tertentu antara lain:
a.    Tempat kering, bersih sejuk, tidak lembab dan berventilasi
b.   Penyimpanan pakan diletakan di atas rak kayu (fallet)
c.    Hindari penyimpanan langsung diatas lantai
d.   Hindari cahaya matahari langsung
e.   Pakan tidak lebih dari 3 bulan sejak produksi.

Reshume dari: Erik Sutikno, 2013