Tampilkan postingan dengan label rumput laut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumput laut. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2016

GRACILARIA, RUMPUT LAUT

Rumput laut (seaweed) secara biologi termasuk salah satu anggota alga yang merupakan tumbuhan berklorofil. Secara garis besar, rumput laut dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) jenis berdasarkan pigmen (zat warna) yang dikandungnya, yaitu: Chlorophyceae (ganggang hijau), Rhodopyceae (ganggang merah), Phaeopyceae (ganggang coklat), dan Cyanophyceae (ganggang biru). Jenis-jenis rumput laut yang bernilai ekonomis penting sebagai penghasil agar-agar (Agarophyta) dari kelompok Rhodophyceae (ganggang merah) antara lain adalah Acanthaopia, Glacillaria, Gelidium dan Pterrocclaidia.
Ganggang merah ditandai oleh sifat-sifat sebagai berikut:
  • Dalam reproduksinya tidak mempunyai stadia gamet berbulu cambuk.
  • Reproduksi seksual dengan karpogonia dan spermatia.
  • Pertumbuhan bersifat uniaksial (satu sel di ujung thallus) dan multiaksial (banyak sel di ujung thallus).
  • Alat pelekat (holdfast) terdiri dari perakaran sel tunggal atau sel banyak.
  • Mempunyai pigmen fikobilin yang terdiri dari fikoeretrin (berwarna merah) dan fikosianin (berwarna biru).
  • Bersifat adaptasi kromatik, yaitu mempunyai penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai kualitas pencahayaan dan dapat menimbulkan berbagai warna “thalli” seperti : pirang, violet, merah tua, merah muda, coklat, kuning, dan hijau.
  • Mempunyai persediaan makanan berupa kanji (floridean starch).
  • Dalam dinding selnya terdapat selulosa, agar, karagenan, porpiran, dan furselaran.
Rumput laut gracilaria umumnya mengandung agar, ager atau disebut juga agar-agar sebagai hasil metabolisme primernya. Agar-agar diperoleh dengan melakukan ekstraksi rumput laut pada suasana asam setelah diberi perlakuan basa serta diproduksi dan dipasarkan dalam berbagai bentuk, yaitu: agar-agar tepung, agar-agar kertas dan agar-agar batangan dan diolah menjadi berbagai bentuk penganan (kue), seperti pudding dan jeli atau dijadikan bahan tambahan dalam industri farmasi. Kandungan serat agar-agar relatif tinggi, karena itu dikonsumsi pula sebagai makanan diet. Melalui proses tertentu agar-agar diproduksi pula untuk kegunaan di laboratorium sebagai media kultur bakteri atau kultur jaringan.
Dalam kehidupan sehari-hari, agar-agar dimanfaatkan sebagai bahan makanan seperti puding, jely (makanan ringan) dan sebagainya. Sedangkan dalam industri, agar-agar digunakan sebagai bahan tambahan pada pabrik pengalengan makanan, farmasi, kosmetik, cat tekstil dan Iain-lain.
 Sejak berabad lalu, nenek moyang kita telah memanfaatkan gracilaria sebagai makanan. Baik dimasak dengan air kelapa atau dengan air santan dan gula, rumput laut juga dapat dibuat penganan, dimasak oseng-oseng atau tumis. Di beberapa daerah pesisir di wilayah nusantara ini, gracilaria diyakini dapat dimakan sebagai pencegah GAKI. Hal ini semakin jelas dari beberapa hasil penelitian, ternyata beberapa jenis gracilaria banyak mengandung iodium.
Rumput laut memiliki kandungan karbohidrat, protein, sedikit lemak  dan abu, yang mana  sebagian besar merupakan  senyawa garam  dan kalori. Bila dibandingkan dengan tanaman dan sayuran darat, kandungan protein pada rumput laut lebih tinggi. Selain itu mengandung vitamin-vitamin seperti A, B1, B2, B6,  B12, dan  C,  beta karotin  serta mineral penting seperti  besi, iodin, aluminum, mangan, calsium, nitrogen dapat larut, phosphor, sulfur, chlor. silicon, rubidium, strontium, barium, titanium, cobalt, boron, copper, kalium, dan unsur-unsur lainnya), asam nukleat, asam amino, protein, mineral, trace elements, tepung, dan gula. Komposisi kimiawi (%) dari beberapa jenis rumput laut dapat dilihat pada tabel berikut.

Jenis
Rumput Laut
Karbo-hidrat
Protein
Lemak
Air
Abu
Serat Kasar
Echeuma cottonii
57,52
3,46
0,93
14,96
16,05
7,08
Gracilaria sp.
41,68
6,59
0,68
9,73
32,76
8,92
Sargassum sp.
19,06
5,53
0,74
11,71
34,57
28,39
Turbinaria sp.
44,90
4,79
1,66
9,38
33,54
16,38

TAKSONOMI
Divisi    : Rhodophyta
Kelas   : Rhodophyceae
Ordo    : Gigartinales
Famili   : Gracilariaceae
Genus  : Glacilaria
Jenis    : Glacilaria sp.

Rumput laut untuk bahan membuat agar adalah rumput laut yang termasuk pada kelas alga merah (Rhodophyta). Rumput laut marga gracilaria banyak jenisnya, masing-masing memiliki sifat-sifat morfologi dan anatomi yang berbeda serta dengan nama ilmiah yang berbeda pula, seperti: G. confervoides, G. gigas, G. verucosa, G. lichenoides, G. crasa, G. blodgettii, G. arcuata, G. taenioides, G. eucheumoides, dan banyak lagi. Beberapa ahli menduga bahwa rumput laut marga gracilaria memiliki jenis yang paling banyak dibandingkan dengan marga lainnya.

Gracilaria merupakan rumput laut yang banyak terdapat di perairan laut Indonesia. Masyarakat pesisir mengenal Gracilaria dengan berbagai nama lokal/sebutan, antara lain:
- Janggut Dayung (Bangka)
- Agar-agar Karang (Indonesia)
- Sango-sango, Dongi-dongi (Sulawesi)
- Bulung Embulung (Jawa, Bali)
- Bulung Sangu (Bali)
- Bulung Tombong Putih (Labuhanhaji, Lombok)
- Lotu-Lotu Putih (Ambon)
- Agar-agar Jahe
- Rambu Kasang.

Gb 1. Rumput Laut jenis Gracilaria sp.
MORFOLOGI

Ciri umum dari Gracilaria sp. adalah mempunyai bentuk thallus silindris atau gepeng dengan percabangan mulai dari yang sederhana sampai pada yang rumit dan rimbun, di atas percabangan umumnya bentuk thalli (kerangka tubuh tanaman) agak mengecil, permukaannya halus atau berbintil-bintil, diameter thallus berkisar antara 0,5-2 mm. Panjang dapat mencapai 30 cm atau lebih dan Glacilaria tumbuh di rataan terumbu karang dengan air jernih dan arus cukup dengan salinitas ideal berkisar 20-28 ppm.
Seperti pada alga kelas lainnya, morfologi rumput laut gracilaria tidak memiliki perbedaan antara akar, batang dan daun. Tanaman ini berbentuk batang yang disebut dengan thallus (jamak: thalli) dengan berbagai bentuk percabangannya. Secara alami gracilaria hidup dengan melekatkan (sifat benthic) thallusnya pada substrat yang berbentuk pasir, lumpur, karang, kulit kerang, karang mati, batu maupun kayu, pada kedalaman sampai sekitar 10 sampai 15 meter di bawah permukaan air yang mengandung garam laut pada konsentrasi sekitar 12-30o/oo. Sifat-sifat oseanografi, seperti sifat kimia-fisika air dan substrat, macamnya substrat serta dinamika/pergerakan air, merupakan faktor-faktor yang sangat menentukan pertumbuhan Glacilaria.
Untuk melekatkan dirinya, Gracilaria memiliki suatu alat cengkeram berbentuk cakram yang dikenal dengan sebutan 'hold fast'. Jika dilihat secara sepintas, tumbuhan ini berbentuk rumpun, dengan tipe percabangan tidak teratur, 'dichotomous', 'alternate', 'pinnate', ataupun bentuk-bentuk percabangan yang lain.

Tabel 1. Panjang thallus Gracilaria
Thallus pada umumnya berbentuk silindris atau agak memipih, namun pada G. eucheunoides dan G. textoni bentuk thallus kedua tumbuhan tersebut benar-benar gepeng. Ujung-ujung thallus umumnya meruncing, permukaan thallus halus atau berbintil-bintil. Keadaan permukaan thallus yang berbintil, umumnya ditemukan pada tumbuhan dalam bentuk karposporofit (mengandung). Panjang thallus sangat bervariasi, mulai dari 3,4 - 8 cm pada G. eucheumoides, dan dapat mencapai lebih dari 60 cm pada G. verrucosa. Variasi panjang thallus Gracilaria disarikan dalam tabel 1.

DAUR HIDUP

Di alam kita dapat menemukan Gracilaria dalam 3 bentuk pertumbuhan. Secara morfologi memang ketiga bentuk pertumbuhan tadi sangat sulit dibedakan, namun jika dilihat dari segi anatomi maka dapat dibedakan:
(a) bentuk sporofit adalah tumbuhan yang memiliki kromosom diploid (2n),
(b) bentuk gametofit adalah bentuk tumbuhan haploid (1n),
(c) bentuk karposporofit adalah bentuk tumbuhan haplodiploid (sedang mengandung).
Umumnya, karposporofit dapat dibedakan dari sporofit dan gametofit, karena pada permukaan thallus sering dijumpai tonjolan-tonjolan bulat.

Perkembangbiakan gracilaria pada garis besarnya melalui dua cara, yaitu:
1. Tidak kawin (Aseksual)
a.  Vegetasi, yaitu dengan cara penyetekan;
b.  Konyugasi, yaitu dengan cara peleburan dinding sel sehingga terjadi pencampuran protoplasma dari dua atau lebih thalli;
c.  Penyebaran Spora yang terdapat pada kantung spora (carpospora, cystocarp).
2. Kawin (Seksual)
Perkawinan antara gamet-gamet yang dihasilkan dari gametofit yang merupakan hasil germinasi dari spora.

Seperti umumnya Rhodophyceae, daur hidup Gracilaria bersifat 'trifasik' (3 bentuk pertumbuhan), yang mengalami pergantian generasi antara seksual dan aseksual. Apabila awal perkembangbiakan dimulai dari generasi aseksual maka akan terlihat bahwa sporofit akan membentuk suatu badan yang disebut dengan tetrasporangia. Adapun bentuk dan ukuran tetrasporangia pada masing-masing jenis sangat bervariasi (Tabel 2).

Tabel 2. Bentuk dan Ukuran Tetrasporangia
Selanjutnya, tetrasporangia akan menghasilkan tetraspora (Gambar 2). Tetraspora akan membelah menjadi 4 bagian, pembelahan mula-mula terjadi secara vertikal, disusul dengan pembelahan secara horizontal. Tetraspora yang telah membelah tadi akan tumbuh menjadi gametofit jantan dan gametofit betina yang masing-masing berupa tanaman 1n. Selanjutnya gametofit jantan akan membentuk sori spermatangia, yaitu suatu badan yang akan memproduksi spermatia. Sedangkan pada gametofit betina akan dibentuk suatu badan yang disebut dengan cabang-cabang carpogonia, yang akan memproduksi sel telur.


Gb 2. Daur Hidup Rumput Laut Gracilaria

Fertilisasi terjadi secara pasif, yaitu apabila spermatia yang dikeluarkan oleh gametofit jantan dapat masuk ke dalam cabang carpogonium dan bertemu dengan sel telur. Setelah fertilisasi terjadi persatuan antara inti spermatia dan inti sel garnet betina (kariogami) sehingga terbentuk zygot (karpospora). Selanjutnya karpospora berkembang di dalam thallus gametofit betina yang kini berubah namanya menjadi karposporofit. Sel-sel lapisan luar dari karposporofit membentuk suatu badan berupa tonjolan-tonjolan tempat berkembangnya karpospora. Tonjolan-tonjolan ini disebut sistokarp atau gonimoblast, dapat terlihat jelas oleh mata. Sistokarp akan mengalami proses pematangan, yaitu dengan pertambahan besar. Pada Gracilaria verrucosa sistokarp muda berdiameter 250-300 mm, sedangkan yang telah masak diameternya berkisar antara 450-500 mm. Setelah sistokarp atau gonimoblast masak, karpospora akan dikeluarkan. Jika spora tersebut menempel pada suatu substrat maka akan tumbuh menjadi tanaman diploid (sporofit).

Penelitian lain yang mengungkapkan daur hidup Gracilaria verrucosa di dalam laboratorium telah dilakukan dengan cara memasukkan spora-spora G. verrucosa ke dalam erlenmeyer yang berisi larutan SWM-3. Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa tanaman betina tidak dapat membentuk cabang-cabang carpogonia tanpa adanya tanaman jantan.  

SIFAT-SIFAT HIDUP

Untuk tumbuh dan berkembang, Gracilaria membutuhkan cahaya, karbondioksida, oksigen serta nutrisi. Cahaya dibutuhkan untuk proses fotosintesa, yaitu karbondioksida akan diubah menjadi karbohidrat (senyawa organik). Sebaliknya, oksigen dibutuhkan untuk respirasi atau merombak senyawa yang mempunyai molekul besar menjadi senyawa-senyawa dengan molekul yang lebih kecil dan energi.
Pengambilan nutrisi dilakukan Gracilaria melalui proses difusi. Dalam proses pengambilan nutrisi, Gracilaria dapat menyerap serta mengakumulasikan unsur-unsur yang ada di sekitarnya dengan baik. Pada konsentrasi merkuri 0,005 ppm dalam air laut ternyata setelah 2 bulan kemudian diperoleh 0,20 ppm merkuri dalam Gracilaria, namun keadaan ini tidak mempengaruhi pertumbuhannya.
Sebagai organisme hidup Gracilaria memiliki kemampuan beradaptasi terhadap faktor-faktor lingkungan seperti ; suhu, salinitas, cahaya dan pH.  

a. Cahaya
Kemampuan adaptasi Gracilaria terhadap cahaya sangat baik. Cahaya yang masuk ke dalam perairan baik dalam jumlah banyak atau sedikit dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhannya. G. verrucosa dan G. foliifera memiliki toleransi yang tinggi terhadap cahaya yang berlebihan, keduanya dapat tumbuh pesat pada kedalaman 5 cm. Sedangkan G. verrucosa tumbuh di perairan yang keruh. Sinar kuning (580-630 nm) memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan G. verrucosa.
Pertumbuhan Gracilaria sp akan semakin baik apabila perairan tidak keruh karena kekeruhan akan menutupi tanaman sehingga profes fotosintesa terganggu. Sebagaimana diketahui bahwa penetrasi sinar matahari ke dalam air yang keruh akan sangat cepat menurun dibandingkan dengan perairan jernih. Ini akan berakibat daya produksi Gracilaria sp akan semakin menurun pada kondisi perairan yang semakin keruh karena terganggunya proses fotosintesa. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas maka tingkat sedimentasi di perairan tambak udang perlu dikaji sehingga dapat diketahui sampai sejauh mana pengaruh tingkat sedimentasi terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan Gracilaria sp
b. Suhu
Selain beradaptasi terhadap cahaya, Gracilaria juga memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap suhu. Kemampuan ini sangatlah bervariasi tergantung kepada tempat di mana tumbuhan tersebut hidup. Gracilaria yang hidup di Atlantik Utara dapat bertahan pada suhu 7°C di musim dingin dan 30°C di musim panas. Demikian pula di Norwegia, tumbuhan ini dapat hidup pada suhu 3°C di musim dingin, dan 14-18°C di musim panas. Akan tetapi pertumbuhan alga ini akan terhambat apabila suhu air di bawah 8°C. Untuk budidaya Gracilaria temperatur optimum yang diperlukan adalah 20-25°C. Sedangkan di Indonesia, salah satu persyaratan untuk membudidayakan Gracilaria, suhu air sebaiknya berkisar antara 20-28°C.  
c. Salinitas dan pH
Tabel 3. Ketahanan Gracilaria terhadap salinitas
Demikian pula kemampuan adaptasi Gracilaria terhadap salinitas juga sangat tinggi. Alga ini dapat hidup pada kisaran salinitas 5-43 permil. Ketahanan enam jenis Gracilaria terhadap salinitas dapat dilihat dalam daftar di bawah (Tabel 3). Secara umum untuk budidaya Gracilaria kisaran salinitas yang baik adalah 15-20 permil serta kisaran pH antara 6-9 dengan pH optimum 8,2-8,7. Untuk usaha budidaya Gracilaria di Indonesia, kisaran salinitas adalah 18-32 permil dengan salinitas optimum adalah 25 permil, sedangkan pH berkisar antara 8-8,5.

HABITAT DAN SEBARAN

Gracilaria umumnya hidup sebagai fitobentos, melekat dengan bantuan cakram pelekat (hold fast) pada substrat padat. Terdiri dari kurang lebih 100 spesies yang menyebar luas dari perairan tropis sampai subtropis. Hal ini menyebabkan beberapa penulis menyebutnya sebagai spesies yang kosmopolit.
Gracilaria hidup di daerah litoral dan sub litoral, sampai kedalaman tertentu, yang masih dapat dicapai oleh penetrasi cahaya matahari. Beberapa jenis hidup di perairan keruh, dekat muara sungai.

Di Indonesia terdapat lebih kurang 15 jenis Gracilaria yang menyebar di seluruh kepulauan. Di Bangka, Gracilaria convervoides hidup melekat di atas batu karang pada kedalaman 2-5 meter. Di Lombok, G. gigas ditemukan di perairan payau. Daerah sebaran Gracilaria di Indonesia meliputi : Kepulauan Riau, Bangka, Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Pulau Bawean, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Maluku. 

Sumber: oseanografi.lipi.go.id (Oseana Vol XV/4, 1990); djpb.kkp.go.id; kenshuseidesu.tripod.com; download.portalgaruda.org; ekonomi.kompasiana.com; rumputlautgracilaria.blogspot.com; pacificraya.wordpress.com

Minggu, 12 Juli 2015

BUDIDAYA DAN PENGOLAHAN RUMPUT LAUT



Rumput laut merupakan makro algae yang termasuk dalam divisi Thallophyta, yaitu tumbuh-an yang mempunyai struktur kerangka tubuh yang terdiri dari batang/thallus dan tidak memiliki daun serta akar. Jenis rumput laut yang banyak terdapat di perairan Indonesia adalah Gracilaria, Gelidium, Eucheuma, Hypnea, Sargasum dan Turbinaria.
Dari beragam jenis rumput laut tersebut, yang dibudidayakan, dikembangkan dan diperdagang-kan secara luas di Indonesia adalah dari jenis karaginofit, (di ataranya Eucheuma spinosium, Eucheuma edule, Eucheuma serra, Eucheuma cottonii, dan Eucheuma spp), agarofit (Gracilaria spp, Gelidium spp dan Gelidiella spp), serta alginofit (Sargassum spp, Laminaria spp, Ascophyllum spp dan Macrocystis spp), yang merupakan bahan baku berbagai industri karena merupakan sumber keraginan (tepung rumput laut), agar-agar dan alginate.

Potensi Pengembangan
Indonesia sebagai negara maritim dengan jumlah 17.504 pulau dan panjang garis pantai mencapai 81.000 kilometer memiliki potensi yang sangat besar bagi pengembangan komoditi rumput laut, di mana kegiatan pengembangannya telah dilakukan di seluruh perairan Indonesia mulai dari Nangroe Aceh Darusalam sampai dengan Papua. Luas indikatif lahan yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya komoditas rumput laut Indonesia mencapai 769.452 hektar. Dari jumlah itu, baru sekitar 50% atau seluas 384.733 hektar yang secara efektif dimanfaatkan, dan akan terus dimanfaatkan sehingga target produksi tahun 2015 sebesar 12.500.000 ton dapat dicapai.
Khusus di Kabupaten Brebes budidaya rumput laut di tambak telah berkembang sejak tahun 2005 dan diusahakan secara besar-besar oleh para pembudidaya di Desa Kaligangsa Wetan, Randusanga Wetan, Randusanga Kulon dan Kaliwlingi (Kecamatan Brebes), Sawojajar (Kecamatan Wanasari), Bangsri dan Grinting (Kecamatan Bulakamba) serta Prapag Lor dan Prapag Kidul (Kecamatan Losari).
Tabel Produksi Rumput Laut di Kabupaten Brebes
No
Kecamatan
2013
2014
Luas Panen (Ha)
Produksi (kg)
Nilai (Rp)
Luas Panen (Ha)
Produksi (kg)
Nilai (Rp)
1
Brebes
878
39.300.625
45.705.042.000
1.368
46.281.400
46.281.400.000
2
Wanasari
162
690.000
690.000.000
25
79.100
79.100.000
3
Bulakamba
0
0
0
42
105.300
105.300.000
4
Tanjung
0
0
0
0
0
0
5
Losari
90
256.160
307.391.608
200
706.000
706.000.000
Jumlah
1.330
40.246.785
46.705.042.000
1.635
47.171.800
47.171.800.000
Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Brebes, 2015

Standar Kualitas
Untuk menjamin mutu dan keamanan pangan, rumput laut yang dihasilkan di Indonesia harus memenuhi standar yang diterapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam SNI 7579.2: 2010. SNI tersebut mengatur standar teknis produksi rumput laut, meliputi kegiatan praproduksi (lokasi dan kondisi budidaya, suhu, salinitas dan pH, konstruksi (bentuk, ukuran dan kriteria), jumlah pelampung, bibit (umur, bobot, bentuk, warna) dan peralatan; serta proses produksi (pengikatan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan monitoring).


BUDIDAYA
Tulisan ini hanya mengetengahkan budidaya rumput laut jenis Gracilaria di tambak sesuai kondisi umum yang ada di Kabupaten Brebes.
Persyaratan Lokasi
a.   Dasar tambak pasir sedikit berlumpur
b.   Dekat dengan sumber air tawar atau mudah untuk menurunkan kadar garam air
c.   Bebas dari polusi
d.   Pergantian air mudah dilakukan
e.   Perbedaan pasang surut minimal 30 cm
f.    Kejernihan: air tidak tidak terlalu keruh dan selalu menerima sinar matahari
g.   Kadar garam air antara 15-35 ppt
h.   Suhu air 20-280 C
i.    pH air 6-9
j.    Oksigen terlarut 3-8 ppm

Konstruksi Tambak
-    Tambak ideal, berbentuk empat persegi panjang atau bujur sangkar
-    Luas petakan berkisar 0,5-1 hektar
-    Kemiringan dasar petakan melandai, elevasi 5-10 0/00
-    Kedalaman tambak antara 75-100 cm
-    Pematang cukup kuat, tidak bocor dan bersih dari tanaman tahunan
-    Pintu air dua buah sebagai pintu pasok dan pintu buang air

Pengadaan Bibit
·    Benih bercabang banyak, rimbun dan runcing
·    Bibit harus baru, cerah dan masih muda
·    Thallus tidak berlendir dan tidak rusak/patah-patah
·    Tidak ada bercak, tidak terkelupas, tidak berbau busuk
·    Umur bibit 25-35 hari (setelah panen sebelumnya)
·    Pengangkutan bibit harus hati-hati dan tetap terendam air
·    Tidak terkena penyakit ice-ice
 Penanganan Bibit
1.   Terlindung dari sinar matahari dan terpaan air hujan.
2.   Tidak lebih dari 24 jam penyimpanan di tempat kering.
3.   Hindari dari kontaminasi  minyak dan zat kimia lainnya.
4.   Jangan direndam dalam air yang tidak bersirkulasi.
5.   Bibit dari alam, dipilih seperti kriteria bibit di atas.

Teknik
Metoda budidaya rumput laut di tambak yang diterapkan oleh pelaku utama di Kabupaten Brebes adalah metoda tebar (broadcast), dimana bibit rumput laut ditebar di seluruh bagian tambak secara merata. Keuntungan metoda ini adalah biaya relatif murah, penanaman lebih cepat dan pengelolaannya sederhana/mudah.
Sebelum penebaran bibit/benih lahan tambak disiapkan secara baik dengan perlakuan:
a). pengangkatan lumpur dasar dan pengeringan selama sebulan;
b). pengisian air sedalam 10 cm;
c). pemberantasan organisma predator dengan saponin, dosis 10-15 ppm;
d). 3-5 hari kemudian air dimasukkan setinggi 50 cm;
e). pemupukan dengan kompos sebanyak 200 kg, urea 50 kg dan SP36 15 kg per hektar.
Setelah tumbuh pakan alami bibit rumput laut ditebar sebanyak 1,5-2 ton/ha. Dua pekan sesudahnya benih ikan Bandeng dan Udang Windu ditebar masing-masing sebanyak 1.000 ekor glondongan dan 10.000 ekor tokolan.
Pemeliharaan media dilakukan melalui monitoring harian kadar garam dan suhu air, serta pergantian air setiap dua pekan. Jika kesuburan media menurun dapat dilakukan pemupukan susulan menggunakan NPK dengan dosis 10 ppm.
Panen
Rumput laut Gracilaria yang dibudidayakan di tambak dapat mulai dipanen pada umur 4 bulan. Panen berikutnya dilakukan setiap 45-55 hari. Jumlah pemanenan optimal dari setiap penebaran sebaiknya tidak melebihi 8 kali.
Panen dilakukan dengan cara mengambil rumput laut dari tambak menggunakan perahu/drum plastik dan dikumpulkan di atas tanggul. Selanjutnya langsung digelar di atas waring untuk penjemuran. Jika cuaca cerah (panas matahari mencukupi) dalam satu hari rumput laut sudah cukup kering, untuk kemudian dimasukkan ke dalam kantong/karung dan dibawa ke gudang. Setelah ditimbang dan dilakukan sortir rumput laut kering dipak untuk dijual ke pedagang pengumpul atau pabrik.

PEMANFAATAN
Rumput laut Indonesia dikenal dengan kualitasnya yang baik dan banyak diminati oleh industri karena mengandung sumber keraginan, agar-agar dan alginate yang cukup tinggi dan cocok digunakan sebagai bahan baku industri makanan, pelembut rasa, pencegah kristalisasi es krim dan obat-obatan. Selain itu, rumput laut di Indonesia juga dapat digunakan sebagai bahan baku benang jahit operasi (sea cut-gut), dekorasi porselen (pengikat warna dan plasticizer), industri kain (pengikat warna), industri kertas (lackuer dan penguat serta pelicin kertas), industri fotografi (pengganti gelatin), bahan campuran obat (obat penyakit: gondok/basedow, rheumatic, kanker, bronchitis kronis/emphysema, scrofula, gangguan empedu/kandung kemih, ginjal, tukak lambung/saluran cerna, reduksi kolestrol darah, anti hipertensi, menurunkan berat badan, anti oksidan), bahan bakar bio fuel dan lain sebagainya.
Kualitas baik yang dimiliki oleh rumput laut tersebut, selain pembudidayaannya dilakukan dengan cara yang baik dan benar, iklim dan geografis Indonesia (sinar matahari, arus, tekanan dan kualitas air serta kadar garam) sesuai dengan kebutuhan biologis dan pertumbuhan rumput laut. Sebab, rumput laut mampu menyerap sinar matahari dan nutrisi air laut secara optimal dan menghasilkan rumput laut yang kaya akan poliskarida (agar-agar dan lemak), phaeophyceae (alginat), chlorophyceae (kanji dan lemak).
Jika melihat segi pemasaran, produk added value rumput laut dapat berupa makanan, pupuk, bahan makanan tambahan, pengendalian pencemaran dan bahan kecantikan.

1. Makanan
Rumput laut telah lama dikonsumsi di seluruh dunia sebagai makanan yang populer di Jepang (yang terbaik dikenal sebagai sushi), kebanyakan orang di Barat sering menganggap bahwa hanya Jepang atau Asia yang secara berkesinambungan menggunakan rumput laut dalam diet mereka. Di Eropa, masyarakat di pesisir telah mengkonsumsi rumput laut. Ini termasuk budaya Welsh di Kepulauan Inggris, Irlandia, Skotlandia, budaya Skandinavia seperti Norwegi dan Islandia.

2. Pupuk
Rumput laut dapat digunakan sebagai pupuk tumbuhan di daratan. Masyarakat petani di dekat pantai telah mengumpulkan rumput laut selama berabad-abad. Sebelum munculnya pupuk berbasis kimia, rumput laut telah menyediakan komunitas ini dengan pasokan tersedia pupuk. Di kalangan pertanian organik saat ini, rumput laut dilihat sebagai layak alternatif organik untuk masyarakat petani pesisir. Perkembangan teknologi saat ini telah melihat rumput laut diekstraksi ke dalam pupuk kimia untuk penyimpanan lebih mudah.

3. Bahan Tambahan Makanan
Dengan menggunakan teknologi masa kini, rumput laut dimanfaatkan sebagai aditif makanan. Bahkan, kebanyakan orang saat makan rumput laut tanpa menyadarinya karena rumput laut ditambahkan ke berbagai produk makanan untuk berbagai tujuan. Aditif berbasis rumput laut misalnya, digunakan untuk menyimpan es krim halus dan lembut dengan mencegah kristal es dari pembentukan saat pembekuan. Bahan ini digunakan untuk memperlambat kecepatan mencairnya es krim. Berbahan dasar rumput laut juga digunakan dalam bir untuk membuat busa lebih stabil dan abadi, dan dalam anggur untuk membantu memperjelas warna. Selain itu, rumput laut juga digunakan untuk mengentalkan dan menstabilkan segala sesuatu dari saus, sirup, dan sup untuk mayones, salad dressing, dan yoghurt.

4. Pengendali Pencemaran (Pollution Control)
Pemanfaatan modern lain rumput laut adalah pada bidang pengendalian pencemaran. Rumput laut telah ditemukan untuk dapat membersihkan polutan mineral yang cukup efektif. Mereka dapat mengurangi fosfor dan nitrogen konten (seperti amonium) dari pembuangan limbah perawatan dan pertanian. Nutrisi kimia yang mencemari perairan ini dapat menyebabkan eutrofikasi, kelebihan produksi yang tidak sehat dari sebuah ekosistem, yang oleh rumput laut dapat dibantu untuk dikekang. Rumput laut juga efektif menyerap logam. Dalam temuan terbaru, peneliti Eropa mampu menggunakan rumput laut untuk menghapus hingga 95% dari logam dalam air yang dibuang dari tambang.

5. Bahan Kecantikan
Rumput laut telah digunakan sebagai obat-obatan, kosmetik dan pengobatan lainnya. Pengobatan China dan Jepang telah lama melihat varietas tertentu rumput laut memiliki sifat obat. Penelitian modern telah mulai menyelidiki kualitas gizi rumput laut dan menemukan rumput laut merupakan sumber yang kaya antioksidan, seperti betakaroten, dan vitamin B1 (tiamin, yang menjaga saraf dan otot jaringan sehat ), B2 (riboflavin, yang membantu tubuh untuk menyerap zat besi dan baik untuk anaemics) dan B12. Juga, mengandung elemen, seperti kromium, yang mempengaruhi cara berperilaku insulin dalam tubuh, dan seng, yang membantu penyembuhan. Kosmetik dan terapi sudah umum menggunakan produk berbasis rumput laut. Lotion krim berbasis rumput laut dan ekstrak rumput laut telah dibuat. Salah satu bentuk terapi, yakni mandi rumput laut telah digunakan dan diyakini dapat menyembuhkan penyakit rematik dan radang sendi. Penelitian saat ini bahkan telah menyelidiki kemampuan rumput laut untuk menekan kanker dan menemukan hasil yang menjanjikan. Banyaknya nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk berfungsi dengan baik bagi mereka yang mengkonsumsi rumput laut. Ini dapat dilihat di Jepang, negara dengan konsumsi rumput laut per kapita terbesar di dunia, di mana penyakit kanker yang melanda penduduknya terbilang rendah.

PERMASALAHAN DAN UPAYA PEMECAHAN
Beberapa masalah yang dihadapi dalam mengembangkan usaha budidaya dan pengolahan rumput laut di Kabupaten Brebes adalah:
1.   Kerusakan infrastruktur tambak akibat bencana pasang laut (rob) yang menyebabkan tumbuhnya hama berupa lumut sutera.
2.   Penjemuran masih bergantung kepada alam/cuaca, sehingga pada musim penghujan mengalami kesulitan dan terjadi penurunan mutu.
3.   Lokasi penjemuran sangat terbatas, peralatan yang digunakan masih sederhana berupa waring yang digelar di pematang atau tepi jalan.
4.   Biaya tenaga panen dan pascapanen masih tinggi.
5.   Pemasaran hasil olahan sangat terbatas.
6.   Bahan-bahan pelengkap pembuatan olahan belum tersedia di pasar lokal.

Untuk mengatasi kendala tersebut dilakukan berbagai upaya, berupa:
1.   Peninggian pematang tambak, baik secara swadaya maupun melalui program pemerintah
2.   Pengendalian abrasi pantai dengan pembuatan APO (alat pemecah ombak), penanaman bakau sepanjang pantai, dan perbaikan jaringan irigasi tambak
3.   Melakukan pemanenan dan penjemuran secara tepat waktu pada saat musim penghujan
4.   Pengadaan lokasi penjemuran di beberapa tempat
5.   Pemanenan dan penanganan pascapanen dilakukan dengan sistem borongan dan atau bagi hasil antara pembudidaya dengan tenaga kerja
6.   Pemasaran hasil olahan dilakukan melalui sistem konsinyasi, penjualan secara langsung di arena pameran/bazar maupun diantar ke konsumen
7.   Pengadaan bahan tambahan melalui agen, maupun secara kolektif dan terjadual.

PROSPEK USAHA
1.   Pemasaran
Peningkatan permintaan pasar akan rumput laut hasil budidaya di tambak semakin menjanjikan. Para pembudidaya telah merasakan keuntungannya. Menurut mereka usaha ini telah memberikan harapan baru untuk mengelola tambak yang sebelumnya mengalami penurunan.
Di sisi lain kemunculan para pedagang pengumpul (pengepul lokal) menjadikan usaha budidaya rumput laut di tambak semakin prospektif. Bertambahnya pedagang berpengaruh positif terhadap keuntungan yang diperoleh para pembudidaya karena terjadi persaingan pemasaran (harga jual).
Dengan asumsi harga Rp 8.000,- setiap kilogram rumput laut kering dengan biaya produksi Rp 5.000,- dan rata-rata produksi sebanyak 1.500 kilogram per hektar setiap panen, maka pembudidaya dapat memperoleh keuntungan kotor sebesar Rp 22.500.000,- per tahunnya. Sedangkan dari panen ikan Bandeng dan udang Windu atau Vaname mendapat tambahan keuntungan sampai Rp 10.000.000,-.
2.    Perusahaan Penampung
Beberapa perusahaan skala nasional yang telah menampung produksi rumput laut hasil budidaya di tambak antara lain adalah: CV. Agar Sari Jaya, Malang; PT. Agarindo Bogatama, Tangerang; dan PT. Indoflora Cipta Mandiri, Malang.
3.    Daftar Importir 
Berikut adalah alamat perusahaan-perusahaan di luar negeri yang menerima olahan (bahan baku setengah jadi) rumput laut:
a.   THE LGM GROUP PTE LTD
1 Fusionopolis Walk, #02-11 North Tower, Solaris Singapore
Tel: (65) 65869016 Fax: (65) 67355420 Email: duuk.leong@thelgmgroup.com
Website: www.thelgmgroup.com
b.   LAGERHAUS EIICHINGER GmbH & Co.KG
Tuchmacherstrasse 16 Germany
Tel: 49 08572 91010 Fax: 49 08572 91012 Email: tann@agrar-profi.de
Website: www.agrar-profi.de
c.   INWATER BIOTEC GMBH
Preetzer Strasse 207 Germany
Tel: (49) (431) 7870087 Fax: (49) (431) 7870087 Email: info@inwater-biotec.de
Website: www.inwater-biotec.de
d.   NEOMED PHARMA GMBH
Moltkestrasse 38 Germany
Tel: (49) (451) 795024 Fax: (49) (451) 792895 Email: info@neomed-pharma.com
Website: www.neomed-pharma.com
e.   MABITEC GMBH
Wendelsteinweg 11 Germany
Tel: (+49) 08966616001 Fax: (+49) 08966616004 Email: info@mabitec.de
Website: www.algen.de
f.    NATUR SPRUNG GMBH
Am Gutspark 1 Germany
Tel: (49) 38424-22690 Fax: (49) 38424-22691 Email: info@natursprung-algen.com
Website: www.natursprung-algen.com
g.   ROQUETTE BLOCKS GmbH & CO. KG
Lockstedter Chaussee Germany
Tel: (+49) (03909) 47260 Fax: (+49) (03909) 510489 Email: info@bioprodukte-steinberg.de
Website: www.algomed.de
h.   RAAB VITAL FOOD GMBH
Carl-Benz-Strasse 9 Germany
Tel: (49) (8442) 9563-0 Fax: (49) (8442) 9563-48 Email: info@raabvitalfood.de
Website: www.raabvitalfood.de

PENGOLAHAN
Rumput laut hasil budidaya dapat diolah menjadi berbagai jenis olahan baik secara langsung maupun bahan setengah jadi. Di berbagai daerah rumput laut segar banyak dikonsumsi sebagai sayur dan pelengkap minuman (es rumput laut). Berikut adalah beberapa contoh pengolahan rumput laut menjadi produk makanan bernilai ekonomis tinggi.
1.    KRUPUK
a. Bahan (prosentase dibandingkan terhadap daging ikan):
·    Ikan                           100%
·    Rumput laut kukus        30%
·    Garam halus                  5%
·    Bawang putih halus        3%
·    Telur                             6%
·    Gula halus                     3%
·    MSG                            25%
·    Soda kue                       2%
·    Tepung tapioka           163%
b. Cara Pembuatan:
·    Ikan yang telah dibersihkan diambil dagingnya, digiling/ditumbuk sampai halus (lumat)
·    Rumput laut dibersihkan, dipotong halus atau dikukus selama 30 menit
·    Campurkan daging ikan yang telah dilumatkan dengan garam, telur, bumbu-bumbu dan soda kue
·    Campurkan tapioka dengan campuran ikan sehingga diperoleh adonan yang lumat dan liat
·    Adonan dibentuk seperti dodolan (dicetak sesuai keinginan)
·    Dodolan krupuk dikukus selama 1 jam hingga matang, dan dinginkan semalam
·    Potong dodolan dengan pisau (ketebalan 2-3 mm)
·    Jemur potongan sampai kering, kemudian dikemas atau langsung digoreng.
2.     SIRUP
a.  Bahan:
·    Agar kertas yang telah dipotong halus          1,5 gr
·    Gula Pasir                                                 350 gr
·    Fruktosa sirup                                           150 gr
·    Natrium benzoat                                         0.4 gr
·    Asam sitrat                                                   1 gr
·    Pewarna makanan                                      6 tetes
·    Essence                                                    ½ sdm
·    Air                                                           100 ml
b.Proses Pembuatan:
Agar kertas direndam dalam air matang 150 ml selama 15 menit sampai lunak, dan diblender. Setelah agak halus dipindahkan dalam panci perebus. Sisa agar dalam blender dicucui dengan air dan ditampung dalam panci perebus sampai volume air yang ditambahkan keseluruhan 650 ml. Selanjutnya agar dipanaskan dalam kompor sekitar 20 menit sampai mendidih dan semua agar larut. Larutan dibiarkan sampai tersisa sekitar 400 ml. Gula pasir dan fruktosa sirup ditambahkan dan diaduk sampai larut. Pemanasan dilakukan pada api kecil. Asam sitrat dan natrium benzoat ditambahkan sambil diaduk rata. Api dimatikan dan pewarna serta essence ditambahkan setelah adonan tidak terlalu panas. Sirup telah siap, selanjutnya dapat dimasukkan dalam botol yang bersih dan ditutup rapat.
3.      PUDING
a.  Bahan:
·    Agar kertas yang telah dipotong halus              7 gr
·    Gula Pasir                                                  100 gr
·    Susu kental manis                                       100 gr
·    Cokelat powder                                            10 gr
·    Tepung maizena                                           20 gr
·    Air                                                            650 ml
b.    Proses Pembuatan:
Agar kertas direndam dalam air matang 150 ml selama 15 menit sampai lunak, dan diblender. Setelah agak halus dipindahkan dalam panci perebus. Sisa agar dalam blender dicuci dengan air dan ditampung dalam panci perebus sampai volume air yang ditambahkan keseluruhan 500 ml. Selanjutnya agar dipanaskan dalam kompor sekitar 15 menit sampai mendidih dan semua agar larut. Cokelat bubuk dan maizena dilarutkan dalam 150 ml air dingin, dan ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam agar yang sedang dimasak. Gula dan terakhir susu ditambahkan sambal tetap diaduk dan dipanaskan. Pemasakan dilanjutkan sekitar 15 menit dalam api kecil. Setelah semua adonan tercampur rata, kompor dimatikan dan adonan dibiarkan agak dingin (suam kuku, suhu sekitar 500C). Selanjutnya adonan dicetak dan dibiarkan membeku. Puding siap disajikan.
4.    DODOL
a. Bahan:
·    Rumput laut cottoni segar                250 gr
·    Gula Pasir                                      200 gr
·    Susu bubuk                                     25 gr
·    Perasa Moccacino                             50 gr
·    Pewarna cokelat                     secukupnya
·    Benzoat                                         0.1 gr
·    Tepung Ketan                                 50 gr
·    Tepung Terigu                                50 gr
·    Santan, melarutkan tepung ketan   100 ml
b. Cara Pembuatan:
·    Eucheuma cottonii kering direndam dalam air bersih selama 24-48 jam sampai bau hilang dan tambahkan kapur bila perlu, kemudian ditimbang.
·    Rumput laut diblender sampai membentuk pasta.
·    Siapkan wajan.
·    Masukkan tepung ketan, susu, perasa dan santan sambil diaduk, sambil ditambahkan terigu sedikit demi sedikit
·    Kemudian tambahkan rumput lalu lalu aduk sampai tercampur rata.
·    Setelah agak mengental tambahkan pewarna, dan benzoat.
·    Pengadukan dilanjutkan dengan menggunakan api kecil sampai dodol menjadi lengket dan kenyal selama 30 menit.
·    Angkat dan cetak dodol dengan menggunakan loyang.
·    Potong-potong kemudian dikemas dengan plastik atau kertas minyak.
Daftar Pustaka:
- Anonim, 2009. Diseminasi Diversifikasi Produk Olahan Ikan dan Rumput Laut. Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. Jakarta
-  Anonim, 2013. Rumput Laut Indonesia. Warta Ekspor Ditjen PEN/MJL/004/9/2013 September
- Anonim, 2013. Randusanga Kulon dan Wetan Riwayatmu Kini. Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Brebes
-  Mulatsih, S., 2012. Pengolahan Dodol Rumput Laut. Universitas Pancasakti. Tegal
-  Sumantri, I., 2013. Budidaya Rumput Laut, Udang dan Bandeng di Tambak. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau. Jepara